Analisis Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Pola Swamedikasi Pada Masyarakat Desa Palampitan Hilir Kecamatan Amuntai Tengah
DOI:
https://doi.org/10.66914/4wgcpt34Keywords:
swamedikasi, tingkat pengetahuan, pola swamedikasi, farmasi komunitas, self-medication, knowledge level, self-medication patterns, community pharmacyAbstract
Background: Self-medication is the selection and use of medicines to treat self-recognized symptoms without professional medical advice. South Kalimantan ranks second nationally in self-medication prevalence (±35%). Objective: To analyze the influence of knowledge level on self-medication patterns in Palampitan Hilir Village, Amuntai Tengah District. Methods: A descriptive non-experimental study using Simple Random Sampling with 100 respondents. Data were collected via a validated questionnaire (Cronbach's α = 0.821) and analyzed by Chi-square test (SPSS 25). Results: Most respondents had adequate knowledge (48%), followed by good (40%) and poor (12%). Eighty percent had inappropriate self-medication patterns. A significant relationship was found between knowledge level and self-medication pattern (p = 0.002). Age (p = 0.000) and education (p = 0.000) were significantly associated with knowledge, while gender (p = 0.280) and occupation (p = 0.132) were not. Conclusion: Knowledge level significantly influences self-medication patterns. Higher education and younger age are associated with better medication knowledge. Pharmacists should intensify community education on responsible self-medication.
Keywords: self-medication, knowledge level, self-medication patterns, community pharmacy
Abstrak
Latar Belakang: Swamedikasi merupakan pemilihan dan penggunaan obat untuk mengatasi keluhan tanpa saran tenaga kesehatan. Kalimantan Selatan menempati peringkat kedua prevalensi swamedikasi nasional (±35%). Tujuan: Menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan terhadap pola swamedikasi masyarakat Desa Palampitan Hilir Kecamatan Amuntai Tengah. Metode: Penelitian deskriptif non-eksperimental dengan Simple Random Sampling pada 100 responden menggunakan kuesioner tervalidasi (Cronbach's α = 0,821), dianalisis dengan uji Chi-square (SPSS 25). Hasil: Sebagian besar responden berpengetahuan cukup (48%), baik (40%), dan kurang (12%). Sebanyak 80% memiliki pola swamedikasi tidak tepat. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dan pola swamedikasi (p = 0,002). Usia (p = 0,000) dan pendidikan (p = 0,000) berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan, sedangkan jenis kelamin (p = 0,280) dan pekerjaan (p = 0,132) tidak. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap pola swamedikasi. Pendidikan lebih tinggi dan usia lebih muda berkaitan dengan pengetahuan swamedikasi yang lebih baik. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi swamedikasi yang bertanggung jawab.
Kata kunci: swamedikasi, tingkat pengetahuan, pola swamedikasi, farmasi komunitas
Downloads
References
Afolabi AO. Factors Influencing The Pattern of Self-Medication in an Adult Nigerian Population. Annals of African Medicine. 2018;7(3):120-127.
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Menuju Swamedikasi yang Aman. Info POM Volume 14. Jakarta: BPOM; 2021.
Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik; 2006.
Fauzia R, Respati T, Nurhayati E. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengobatan Sendiri pada Kelompok Ibu Rumah Tangga di Kabupaten Purwakarta Tahun 2014. Prosiding Penelitian. 2019;57(54):86-115.
Gayatri AAPS, et al. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengetahuan Swamedikasi. Jurnal Farmasi Komunitas. 2023.
Halim SV, et al. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Swamedikasi. Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2023.
Kristiono A, et al. Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Pengetahuan Pengobatan Mandiri. Media Farmasi. 2021.
Lonah L, et al. Pekerjaan dan Pengetahuan Swamedikasi: Sebuah Kajian Deskriptif. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2023.
Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2012.
Prasetiya CB. Analisis Swamedikasi di Indonesia. Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian. 2015.
Putra RA, et al. Tingkat Pengetahuan Swamedikasi Mahasiswa Universitas Dharma Andalas Padang. Jurnal Farmasi Klinisains. 2023.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta; 2017.
Supardi S, Notosiswoyo M. Pengobatan Sendiri Sakit Kepala, Demam, Batuk, dan Pilek pada Masyarakat di Desa Cilawen, Kabupaten Cianjur. Majalah Ilmu Kefarmasian. 2015.
Wahyudi. Perbandingan Pola Swamedikasi Masyarakat Perkotaan dengan Masyarakat Pedesaan Sumatera Utara. Medan: UIN Sumatera Utara; 2023.
Wahyuningtyas. Gambaran Swamedikasi Terhadap Influenza Pada Masyarakat di Kabupaten Sukoharjo. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2020.
World Health Organization. The Role of the Pharmacist in Self-Care and Self-Medication. The Hague: WHO; 1998.
World Self-Medication Industry. Responsible Self-Care and Self-Medication: A Worldwide Review of Consumer Surveys. Ferney-Voltaire: WSMI; 2019.
Downloads
-
PDF FULL TEXT
Abstract Dilihat : 10 Kali , Download: 6 Kali
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Mahda Annisa, Aris Fadillah, Juwita Ramadhani (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Mahda Annisa

