Dari Konten ke Kemewahan: Komersialisasi Islam dan Fenomena Flexing Kesalehan di Era Media Sosial
DOI:
https://doi.org/10.66914/z1yf4t61Keywords:
religion commodification, piety flexing, Islamic social media, digital da'wah, Islam commercialization, religious identity, komodifikasi agama, flexing kesalehan, media sosial Islam, dakwah digital, komersialisasi Islam, identitas religiusAbstract
Fenomena flexing kesalehan di media sosial, yaitu praktik menampilkan identitas religius secara ostentatif demi kepentingan eksistensi diri maupun komersialisasi, menjadi gejala sosial yang semakin menonjol di kalangan Muslim Indonesia. Perkembangan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah mengubah ekspresi keberagamaan dari ruang privat menuju ruang publik digital yang sarat dengan logika kapitalisme media. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komodifikasi agama dalam praktik flexing kesalehan di media sosial serta implikasi sosial dan etis yang ditimbulkannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) dan analisis kritis terhadap fenomena dakwah digital di media sosial. Kerangka teoritis yang digunakan meliputi teori Komodifikasi Agama dari Pattana Kitiarsa, teori Dramaturgi Erving Goffman, dan konsep Hyper-Religiusitas Jean Baudrillard. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial mendorong transformasi dakwah menjadi komoditas ekonomi sekaligus membentuk kesalehan sebagai modal simbolis yang dapat dipertontonkan dan dimonetisasi. Praktik tersebut melahirkan paradoks kesalehan performatif yang mengaburkan batas antara syiar, pencitraan diri, dan kepentingan pasar. Selain itu, komersialisasi Islam di era digital turut membentuk ekosistem religius yang dipengaruhi oleh budaya konsumtif dan logika kapitalisme platform. Dengan demikian, fenomena flexing kesalehan tidak hanya mencerminkan perubahan pola keberagamaan masyarakat Muslim kontemporer, tetapi juga menunjukkan kuatnya pengaruh media digital dalam membentuk makna religiusitas di ruang publik.
Kata Kunci: komodifikasi agama, flexing kesalehan, media sosial Islam, dakwah digital, komersialisasi Islam, identitas religius
Abstract
The phenomenon of piety flexing on social media, namely the ostentatious display of religious identity for self-existence and commercial purposes, has become an increasingly prominent social issue among Indonesian Muslims. The development of digital platforms such as Instagram, TikTok, and YouTube has transformed religious expression from a private sphere into a digital public arena dominated by media capitalism. This article aims to analyze the commodification of religion in the practice of piety flexing on social media and its social and ethical implications. This study employs a qualitative approach using library research and critical analysis of digital da'wah phenomena on social media. The theoretical framework draws on Pattana Kitiarsa’s Religion Commodification theory, Erving Goffman’s Dramaturgy theory, and Jean Baudrillard’s concept of Hyper-Religiosity. The findings reveal that social media has transformed da'wah into an economic commodity while simultaneously constructing piety as symbolic capital that can be displayed and monetized. This condition creates a paradox of performative piety that blurs the boundaries between sincere religious preaching, self-image construction, and market interests. Furthermore, the commercialization of Islam in the digital era contributes to the emergence of a religious ecosystem shaped by consumptive culture and platform capitalism. Therefore, the phenomenon of piety flexing reflects not only changes in contemporary Muslim religiosity but also the growing influence of digital media in shaping religious meaning within the public sphere.
Keywords: religion commodification, piety flexing, Islamic social media, digital da'wah, Islam commercialization, religious identity
Downloads
References
Amna, A. (2019). Hijrah artis sebagai komodifikasi agama. Jurnal Sosiologi Reflektif, 13(2), 331–350. https://doi.org/10.14421/jsr.v13i2.1531
Arifin, F. (2019). Mubalig YouTube dan komodifikasi konten dakwah. Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 4(1), 91–120. https://doi.org/10.22515/balagh.v4i1.1718
Asri, C., & Soehadha, M. (2022). Komodifikasi agama: Studi analisis terhadap tampilan agama di Instagram. Mukaddimah: Jurnal Studi Islam, 7(1), 97–113.
Baudrillard, J. (1994). Simulacra and simulation. University of Michigan Press.
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241–258). Greenwood.
Fealy, G., & White, S. (2008). Expressing Islam: Religious life and politics in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies.
Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Anchor Books.
Hasanah, U. (2026). Kesalehan digital: Studi mahasiswa Islam dalam menilai keberagamaan melalui media sosial. Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial. https://doi.org/10.36722/jaiss.v4946
Ilman, I. G., Hamid, A. R., & Sudarman, M. A. (2025). Komodifikasi Islam: Antara komersialisasi dan autentisitas. JSI: Jurnal Studi Islam, 14(1). https://jurnal.iainambon.ac.id
Kitiarsa, P. (Ed.). (2008). Religious commodifications in Asia: Marketing gods. Routledge.
Kozinets, R. V. (2010). Netnography: Doing ethnographic research online. SAGE Publications.
Miller, V. J. (2005). Consuming religion: Christian faith and practice in a consumer culture. Continuum.
Nasrullah, R., & Rustandi, D. (2016). Meme dan Islam: Simulakra bahasa agama di media sosial. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies, 10(1).
Rodi, M. (2025). Visualisasi kesalehan komunitas dan komodifikasi agama dalam Instagram Hijrah Fest. QAULAN: Journal of Islamic Communication, 6(1), 81–98.
Rozaki, A. (2013). Komodifikasi Islam: Kesalehan dan pergulatan identitas di ruang publik. Jurnal Dakwah: Media Dakwah dan Komunikasi Islam, 14(2), 199–212. https://doi.org/10.14421/jd.2013.14203
Rustandi, L. R. (2020). Disrupsi nilai keagamaan dalam dakwah virtual di media sosial sebagai komodifikasi agama di era digital. Sangkep: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, 3(1), 23–34.
Saumantri, T. (2023). Hyper-religiusitas di era digital: Analisis paradigma postmodernisme Jean Baudrillard terhadap fenomena keberagamaan di media sosial. Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan, 20(1), 107–123. https://doi.org/10.46781/al-mutharahah.v20i1.646
Shadiqin, S. I., & Jamil, S. (2024). Mediatisasi sufisme: Otoritas, komunitas, dan autentisitas tasawuf di dunia maya. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 26(2), 273–288.
Suryadi, A., Arief, M., & Arief, M. (2026). Flexing religius di media sosial: Antara kesalehan dan eksistensi diri. Nubuwwah: Journal of Communication and Islamic Broadcasting. https://journal.uinsi.ac.id/index.php/Nubuwwah/article/view/11898
Universitas Indonesia. (2024). Komodifikasi kesalehan niqabis di media sosial Instagram. Scholar UI. https://scholar.ui.ac.id
Zailani, M. R., & Ulinnuha, R. (2023). Komodifikasi agama sebagai identitas kesalehan sosial. Jurnal Riset Agama, 3(1), 249–265.
Downloads
-
PDF FULL TEXT
Abstract Dilihat : 0 Kali , Download: 0 Kali
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nazua Zaskia, Itsna dzakiah, Muhammad Naufal Alghifari, Mukhamad Helmiazri, Abdul Fadhil (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Nazua Zaskia

